Renungan Ketika Ajal Tiba
Sebuah Pengingat Hakikat Kehidupan Dunia yang Hanya Sementara
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saudara-saudaraku, mari kita luangkan waktu sejenak untuk merenungkan satu kepastian yang sering kita lupakan. Renungan ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan. Agar kita tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan dan gemerlapnya dunia yang fana.
Bagian 1: Menurunnya Fungsi Organ Tubuh
Coba kita renungkan sejenak. Lihatlah tanganmu saat ini. Rasakan debar jantungmu. Mata yang membaca ini, telinga yang mendengar, kaki yang menapak bumi—semuanya berfungsi dengan sempurna, seolah akan selamanya begitu.
Namun, pernahkah kau perhatikan bahwa di balik kesempurnaan itu, ada sebuah jam pasir yang terus berjalan? Butir-butir waktunya jatuh perlahan namun pasti. Tidak terasa, rambut hitam mulai dihiasi uban, penglihatan mulai memerlukan bantuan, dan berbagai penyakit mulai datang tak diundang.
Kita ini hanya seperti daun. Hijau, segar, dan kuat di dahan saat muda. Lambat laun menguning, kering, dan akhirnya lepas. Tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang bisa menghentikan detik jam ini. Ia terus berjalan... mendekatkan kita pada satu pintu yang pasti akan kita masuki.
Bagian 2: Saat Sang Tamu Tak Diundang Datang
Dan saatnya tiba. Saat tenaga sudah habis, obat sudah tak mempan, dan semua ikhtiar manusia sudah mencapai batasnya. Di saat itulah, di saat kita mungkin sedang sendirian atau dikelilingi keluarga, Dia datang. Sang Tamu Agung. Malaikat Maut.
Coba bayangkan. Tangan yang selama ini memegang handphone, memegang setir, memeluk anak, tiba-tiba tak bisa digerakkan. Mulut yang fasih berbicara tiba-tiba kelu membisu. Mata yang biasa melihat tiba-tiba kabur. Kita mendengar tangisan anak, pasangan, orang tua—kita ingin menjawab, ingin menghapus air mata mereka—tapi lidah ini sudah beku.
Jiwa ini berontak. "Tidak mau! Saya masih punya rencana! Anak saya belum lulus! Hutang saya belum lunas!" Tapi semua seruan itu tak didengar. Malaikat itu mulai menarik. Perlahan... dari ujung kaki, melalui betis, lutut, paha, dada... Hingga akhirnya kita ikut. Diantar olehnya. Meninggalkan semua yang kita cintai.
Bagian 3: Kesendirian di Dalam Kegelapan
Kita dibawa ke suatu tempat. Tempat yang sempit, gelap, dan pengap. Kita yang dulu tidur di kasur empuk, di ruangan ber-AC, dikelilingi foto keluarga—kini terbaring di peti kayu sederhana, di bawah timbunan tanah. Sendiri. Sunyi yang mencekam.
Tubuh yang gagah, wajah yang cantik atau tampan, kulit yang mulus—mulai berubah. Perlahan-lahan, tapi pasti. Warna kulit berubah menjadi kebiruan, lalu kehijauan. Bau tidak sedap mulai keluar. Kemudian datanglah makhluk-makhluk kecil dari tanah. Mereka adalah ahli waris terakhir dari jasad kita.
Mereka tidak peduli bahwa kita dulu seorang direktur, seorang artis, seorang ulama, atau rakyat biasa. Mereka hanya melihat kita sebagai makanan. Mereka menggerogoti kita dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kulit kita pecah. Isi perut kita keluar. Cairan tubuh kita menyatu dengan tanah.
Di atas, kehidupan terus berjalan. Orang-orang yang menangisi kita perlahan mulai bisa tersenyum lagi. Mereka makan lagi, tertawa lagi, merencanakan masa depan lagi. Nama kita mungkin masih disebut, tapi semakin lama semakin jarang. Hingga akhirnya tinggallah sebuah nisan dengan nama yang mungkin terkikis waktu. Kita dilupakan dunia.
Bagian 4: Alam Kesendirian yang Sesungguhnya
Tapi, anakku, saudaraku, meski jasad ini sudah hancur lebur bersatu dengan tanah—jiwa kita tidak. Jiwa kita hidup. Dan ia pindah ke sebuah alam. Alam Barzakh. Alam kubur. Sebuah ruang tunggu yang sangat panjang menuju pengadilan yang Maha Besar.
Di alam itu kita sendirian. Benar-benar sendirian. Tidak ada pasangan yang bisa menenangkan. Tidak ada anak yang bisa diminta tolong. Tidak ada teman yang bisa diajak bicara. Tidak ada harta, tidak ada jabatan, tidak ada pujian.
Jika amal kita baik, maka kubur kita akan dilapangkan seperti taman surga. Ada bau wewangian yang harum. Ada cahaya yang terang benderang. Kita akan ditemani oleh para malaikat yang ramah.
Tapi jika amal kita buruk, maka kubur kita akan disempitkan. Tulang-tulang rusuk kita saling bertumpuk menghimpit jiwa yang tersiksa. Kegelapan itu pekat menyesakkan. Bau busuk menyelimuti kita. Setiap hari adalah siksaan hingga hari penghakiman tiba.
Bagian 5: Pesan untuk Kita yang Masih Diberi Kesempatan
Kita sedang ada di mana sekarang? Kita sedang berada di Bagian 1. Kita masih sehat, masih kuat, masih punya waktu. Ini adalah anugerah terbesar yang sering kita sia-siakan.
Percayalah, kematian itu sangat dekat. Bukan hanya untuk orang tua di rumah sakit. Bukan hanya untuk orang yang sakit parah. Tapi untuk yang sedang menyetir di jalan raya, yang sedang bekerja di kantor, yang sedang tidur nyenyak di rumah. Untuk kita yang sedang membaca renungan ini.
Besok pagi, ketika adzan Subuh berkumandang, bisa jadi ada nama yang dipanggil oleh malaikat yang tidak sempat menjawab "Labbayk" untuk shalat subuhnya. Bisa jadi nama itu adalah nama saya. Atau nama kamu.
Bagian 6: Mengumpulkan Bekal yang Hakiki
Oleh karena itu, mari mulai detik ini juga. Sebelum lidah ini kelu, sebelum tangan ini kaku, sebelum jantung ini berhenti berdetak.
- Pertama, perbaiki hubungan dengan Allah. Bangunlah di sepertiga malam, sujud dan menangislah di hadapan-Nya. Ucapkanlah "Astaghfirullahal 'adzim" seratus kali sehari.
- Kedua, perbaiki hubungan dengan manusia. Telepon orang tuamu sekarang. Katakan, "Ibu, Ayah, maafkan semua kesalahan anak." Temui saudaramu yang pernah kita sakiti. Bayarlah hutang-hutang kita.
- Ketiga, ingatlah bahwa dunia ini fana. Rumah megah kita akhirnya akan ditinggali orang lain. Mobil mewah kita akan dikendarai orang lain. Hanya amal kebaikan kita yang akan tetap menjadi milik kita.
Jangan tunggu tua untuk bertaubat. Maut itu tidak memandang usia. Banyak buaian yang berubah menjadi keranda. Banyak pakaian pesta yang berubah menjadi kain kafan.
Penutup dan Doa
Saudara-saudaraku, hidup ini, kata orang bijak, cuma "mampir ngombe". Mampir minum. Sebentar saja. Jangan sampai kita terlalu asyik dengan gelasnya, dengan tempat duduknya, dengan percakapannya, sampai lupa bahwa kita harus segera melanjutkan perjalanan yang sangat, sangat jauh.
Maka, mari kita persiapkan bekalnya. Dengan shalat yang khusyuk, bukan sekadar gerakan. Dengan puasa yang menjaga hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar. Dengan sedekah yang ikhlas, bukan karena ingin dipuji. Dengan ilmu yang bermanfaat, dengan anak yang sholeh, dengan jejak kebaikan yang terus mengalir pahala walau kita sudah tiada.
"Astaghfirullahal 'adzim... Astaghfirullahal 'adzim... Astaghfirullahal 'adzim..."
Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengampun, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan semua kaum muslimin. Janganlah Engkau pisahkan kami dari iman ini. Berilah kami hati yang selalu ingat pada kematian. Lembutkanlah hati kami dengan tangis taubat. Terangilah kubur kami dengan cahaya iman dan amal shaleh. Anugerahkanlah kami husnul khatimah...
Amiin, Ya Rabbal 'Alamin.
Kurang lebihnya mohon maaf, jika ada kata yang kurang berkenan. Semoga renungan singkat ini menjadi penerang bagi hati kita semua.Wallahu a'lam bishawab.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.